Ketahuan banget ya kalo saya termasuk salah satu penyuka buku serial Harry Potter? Terlepas dari segala kontroversinya, harus diakui bahwa bukunya sangat bagus, baik dalam hal penulisan maupun penjualannya. Tapi saya bukan hendak membahas hal itu, yang menjadi perhatian saya adalah Ponari dan batu bertuahnya.
Sebenarnya terasa agak terlambat membahas fenomena Ponari ini baru sekarang. Kehebohannya sudah terjadi berminggu-minggu yang lalu dan sudah banyak orang yang membahasnya baik dari segi agama, hukum maupun sekedar beropini saja. Postingan ini termasuk yang terakhir, hanya menyuarakan opini keprihatinan saya karena berlarut-larutnya masalah dukun dan batu bertuah ini.
Sebagai seorang dokter, jelas saya prihatin ketika pasien tidak lagi percaya pada dokter atau ketika pasien tidak lagi berkemampuan untuk membiayai pengobatan modern yang makin lama makin melangit saja harganya. Tapi saya menyadari bahwa upaya pencarian kesembuhan memang tidak harus bertumpu pada pengobatan modern saja. Sudah bukan rahasia lagi bahwa ilmu kedokteran masih belum dapat menjawab semua permasalahan medis, di sinilah pengobatan tradisional mendapat tempat sebagai alternatif.
Namun apakah praktek dukun dan batu bertuah ala Ponari maupun yang semacamnya ini layak menjadi alternatif juga?
Saya tidak bisa menyalahkan pasien yang berjuang untuk sembuh, tapi perlu dipertanyakan juga apakah cara dan terutama niatnya sudah benar? Apalagi ketika cara-cara itu berkembang menjadi semakin ngawur semacam berebut air bekas mandi Ponari dan genangan air hujan di tenda rumah Ponari.
Saya sangat sangat prihatin ketika mendengar berita 4 orang meninggal dunia saat mengantri. Sungguh kesembuhan adalah kuasa Allah semata. Kematian adalah keniscayaan. Yang menjadi pertanyaan sekarang, meninggal dalam keadaan apakah orang-orang ini? Dalam keadaan muslimkah? Dalam keadaan syirikkah? Wallahu a’lam.