Seorang teman sejawat mengajak saya ikut serta dalam sebuah acara seminar mini yang diadakan oleh Bayer pagi ini. Narasumbernya sangat informatif dan pesertanya juga aktif bertanya sehingga diskusinya benar-benar terasa seru. Saya sangat senang dengan model acara seminar seperti ini, karena saya merasa mendapat jauh lebih banyak ilmu dan pengalaman klinis daripada ketika saya mengikuti acara PKB yang berjeti-jeti itu. Dapat souvenir dan makan siang gratis lagi :P
Satu hal yang sempat menarik perhatian saya adalah ketika dr. Budi Santoso, SpOG selaku narasumber menceritakan suatu kasus yang pernah beliau tangani, di mana seorang wanita yang masih di kisaran usia 30-an datang kepada beliau dengan keluhan tidak mendapat menstruasi kalau tidak dengan minum pil KB kombinasi terlebih dahulu. Tentunya ini adalah suatu kondisi yang aneh, karena wanita di usia produktif akan memproduksi sendiri Estrogen di dalam tubuhnya. Seharusnya dengan pemberian Progestogen saja perdarahan (withdrawal bleeding) bisa terjadi. Beliau pun melakukan pemeriksaan kadar E2 dan FSH, dan ternyata benar kecurigaan beliau bahwa pasien tersebut mengalami menopause dini, yang berarti suatu vonis bahwa selamanya ia tak akan bisa punya anak lagi.
Meledaklah tangis wanita itu, “Saya mau nikah, dok…”
—
Seorang wanita akan merasa hidupnya telah lengkap ketika ia menjadi seorang istri, ia berbakti dan menaati suaminya dengan sebaik-baiknya, kemudian melahirkan buah hatinya dan menjadi seorang ibu. Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri, ketika mendengar mulut anak-anak yang masih mungil dan menggemaskan itu memanggil-manggil, “Ibu…! Ibu…!” Berbahagialah para wanita itu, terutama ketika kita menyadari bahwa tidak semua wanita mendapatkan kesempatan dan amanah itu sebagai bagian dari ketetapan Allah.
Maka akan menjadi suatu ironi dan tragedi yang patut dicermati oleh semua pihak ketika kasus aborsi kembali mencuat dan didukung oleh suatu fakta penelitian bahwa kasus aborsi di negeri kita tercinta ini mencapai angka 2,5 juta jiwa tiap tahunnya. Berarti tak kurang dari 6000 bayi diaborsi setiap harinya!
Memang kalau cuma dipikir dengan otak/logika saja, orang akan dengan mudahnya berkata, “Itu kan ya terserah ibunya, mau diaborsi atau nggak. Sekarang zaman juga serba sulit.”
Kalau hanya menggunakan otak, yang muncul memang hanya perhitungan-perhitungan matematis untung dan rugi. Ngapain seorang ibu kok sudi-sudinya mengandung selama berbulan-bulan, dalam keadaan payah yang bertambah-tambah? Ngapain seorang ibu kok mau-maunya melahirkan janin yang dikandungnya padahal nyawa taruhannya? Kok bisa-bisanya ya seorang ibu merawat bayi yang sejak lahirnya tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk mempertahankan hidupnya sendiri, sampai bisa tengkurap, merangkak, berbicara hingga tumbuh dewasa? Tak jauh beda seperti pemikiran orang-orang di negara (yang katanya) maju di luar sana yang enggan punya anak karena dianggap sebagai beban ekonomi keluarga.
Padahal ketika naluri dan nurani berbicara, kita menyadari bahwa Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang telah menanamkan rasa cinta dan kasih sayang ke dalam hati setiap orang tua, sebagai bagian dari fitrah manusia. Maka ke manakah rasa kasih sayang itu ketika seorang ibu dengan tega membunuh anak kandungnya sendiri? Ke mana rasa cinta dan welas asih itu ketika seorang ibu meninggalkan bayinya di selokan dan di tempat sampah?
—
Rasulullah SAW telah mencium Al-Hasan bin Ali (cucu beliau), dan ketika itu di sisi beliau ada Al-Aqra’ bin Habis At-Tarmini. Al-Aqra berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak, tapi tak satupun di antara mereka yang pernah aku cium.” Maka Rasulullah SAW memandangnya dan bersabda, “Barangsiapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi.” (HR Bukhari)