Posts Tagged islam

Sesungguhnya Allah mencintaimu…

“…Amat sedikitlah kamu mengingat(Nya).” QS An Naml 62

Betapa Allah Maha Tahu akan keadaan hamba-hamba-Nya. Manusia-manusia lemah yang senantiasa khilaf, dengan kondisi iman yang naik turun. Betapa banyak bilangan usia berlalu, namun betapa sedikit nikmat yang berbalas syukur.

Betapa Allah Maha Santun kepada hamba-hamba-Nya. Manusia-manusia yang tak lelah melampaui batas, mendzalimi diri sendiri juga sesamanya. Betapa lembut Allah menyapa, menyentuh setiap hati yang masih mengenal iman walau setitik.

Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesulitannya
lalu aku kecewakan? 
Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena dosa-dosanya yang besar
lalu Aku putuskan harapannya?
Siapakah pula yang pernah mengetuk pintu-Ku
lalu tak Aku bukakan?

Berbahagialah wahai orang-orang mukmin, sesungguhnya Rabb-mu sangat mengasihimu…

Komentar (6)

Akhir Sejarah Cinta Kita

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita tidur saling memunggungi
tapi jiwa berpeluk-peluk
senyum mendekap senyum

suatu saat dalam sejarah cinta kita
raga tak lagi saling membutuhkan
hanya jiwa kita sudah lekat menyatu
rindu mengelus rindu

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita hanya mengisi waktu dengan cerita
mengenang dan hanya itu
yang kita punya

suatu saat dalam sejarah cinta kita
kita mengenang masa depan kebersamaan
ke mana cinta kan berakhir
di saat tak ada akhir

 

(M. Anis Matta, Lc)

Komentar (5)

Kekuatan Husnudzon

Alkisah di negeri antah berantah hiduplah seorang ayah yang memiliki 2 orang putri. Mereka berdua sebaya, tapi sikap mereka terhadap segala sesuatu sangat berbeda. Putri pertama selalu curiga terhadap segala sesuatu, selalu berburuk sangka, hingga ia pun diberi nama putri su’udzon. Sedangkan putri yang kedua selalu berbaik sangka dalam menghadapi segala sesuatu, maka ia diberi nama putri husnudzon.

Suatu hari ayah mereka ingin memberi kedua putrinya hadiah. Sang ayah tahu bahwa putri pertama sangat menyukai perhiasan, sementara sang adik sangat menyukai kuda. Dibelikannya kalung yang sangat mahal dan indah untuk sang kakak. Sedangkan untuk sang adik, sang ayah ingin menguji, ia hanya memberi satu kotak tahi kuda.

Apa yang terjadi?

Ketika putri su’udzon diberi kalung indah tersebut, sama sekali tidak ada senyum di wajahnya, bahkan keningnya mengernyit. “Jangan-jangan ini kalung imitasi, atau… sepertinya kalung ini sudah dicoba oleh ribuan leher, ahh… kado yang sangat menyebalkan, seharusnya aku sendiri yang memebelinya agar aku yakin.” gerutunya. Tidak ada ucapan terima kasih, tidak ada pancaran kegembiraan, yang ada hanyalah tampang asam dan kecut.

Ketika giliran putri huznudzon yang diberi kotak hadiahnya yang berisi tahi kuda, tiba-tiba saja ia berteriak luar biasa kencang dan girangnya. “Ayaaah…. oh ayaaaahhh….. terimakasiiiih… ayah sembunyikan di mana kudanya? Ayolah katakan padaku… ayah sembunyikan di mana kuda untukku?”

Sang ayah pun tersenyum, betapa bahagianya ia melihat putri bungsunya itu bergembira hanya dengan sebuah kado sekotak tahi kuda, bahkan mengira sang ayah telah menyembunyikan kado yang sesungguhnya, yaitu seekor kuda. Demi memenuhi prasangka baik putrinya dan demi melihat kebahagiaan di wajah putrinya itu, sang ayah pun akhirnya benar-benar memberikannya seekor kuda.

 

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari cerita di atas?

Bahwa kita tidak akan mendapatkan lebih dari apa yang kita sangkakan.

Jangan sampai kalung indah dan berharga yang Allah hadiahkan untuk kita, kita sambut dengan muka masam dan selalu bersikap penuh curiga, sehingga kalung itu tak lebih bagaikan kalung imitasi yang tak berharga bagi kita. Padahal banyak sekali saudara-saudara kita di luar sana yang mendapat “sekotak tahi kuda” dari Allah, tapi karena mereka berprasangka baik, mereka bersyukur, dan Allah memang Maha Pengasih dan Maha Kaya, akhirnya Allah pun memenuhi prasangka baik mereka itu…

Apa yang kita dapatkan adalah buah dari pikiran kita.

Then, think positive!

 

Diolah dari Siap-Siap Nikah – Syamsa Hawa

Komentar (9)

Aborsi, dari Kacamata Seorang Wanita

Seorang teman sejawat mengajak saya ikut serta dalam sebuah acara seminar mini yang diadakan oleh Bayer pagi ini. Narasumbernya sangat informatif dan pesertanya juga aktif bertanya sehingga diskusinya benar-benar terasa seru. Saya sangat senang dengan model acara seminar seperti ini, karena saya merasa mendapat jauh lebih banyak ilmu dan pengalaman klinis daripada ketika saya mengikuti acara PKB yang berjeti-jeti itu. Dapat souvenir dan makan siang gratis lagi :P

Satu hal yang sempat menarik perhatian saya adalah ketika dr. Budi Santoso, SpOG selaku narasumber menceritakan suatu kasus yang pernah beliau tangani, di mana seorang wanita yang masih di kisaran usia 30-an datang kepada beliau dengan keluhan tidak mendapat menstruasi kalau tidak dengan minum pil KB kombinasi terlebih dahulu. Tentunya ini adalah suatu kondisi yang aneh, karena wanita di usia produktif akan memproduksi sendiri Estrogen di dalam tubuhnya. Seharusnya dengan pemberian Progestogen saja perdarahan (withdrawal bleeding) bisa terjadi. Beliau pun melakukan pemeriksaan kadar E2 dan FSH, dan ternyata benar kecurigaan beliau bahwa pasien tersebut mengalami menopause dini, yang berarti suatu vonis bahwa selamanya ia tak akan bisa punya anak lagi.

Meledaklah tangis wanita itu, “Saya mau nikah, dok…”

Seorang wanita akan merasa hidupnya telah lengkap ketika ia menjadi seorang istri, ia berbakti dan menaati suaminya dengan sebaik-baiknya, kemudian melahirkan buah hatinya dan menjadi seorang ibu. Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri, ketika mendengar mulut anak-anak yang masih mungil dan menggemaskan itu memanggil-manggil, “Ibu…! Ibu…!” Berbahagialah para wanita itu, terutama ketika kita menyadari bahwa tidak semua wanita mendapatkan kesempatan dan amanah itu sebagai bagian dari ketetapan Allah.

Maka akan menjadi suatu ironi dan tragedi yang patut dicermati oleh semua pihak ketika kasus aborsi kembali mencuat dan didukung oleh suatu fakta penelitian bahwa kasus aborsi di negeri kita tercinta ini mencapai angka 2,5 juta jiwa tiap tahunnya. Berarti tak kurang dari 6000 bayi diaborsi setiap harinya!

Memang kalau cuma dipikir dengan otak/logika saja, orang akan dengan mudahnya berkata, “Itu kan ya terserah ibunya, mau diaborsi atau nggak. Sekarang zaman juga serba sulit.”

Kalau hanya menggunakan otak, yang muncul memang hanya perhitungan-perhitungan matematis untung dan rugi. Ngapain seorang ibu kok sudi-sudinya mengandung selama berbulan-bulan, dalam keadaan payah yang bertambah-tambah? Ngapain seorang ibu kok mau-maunya melahirkan janin yang dikandungnya padahal nyawa taruhannya? Kok bisa-bisanya ya seorang ibu merawat bayi yang sejak lahirnya tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk mempertahankan hidupnya sendiri, sampai bisa tengkurap, merangkak, berbicara hingga tumbuh dewasa? Tak jauh beda seperti pemikiran orang-orang di negara (yang katanya) maju di luar sana yang enggan punya anak karena dianggap sebagai beban ekonomi keluarga.

Padahal ketika naluri dan nurani berbicara, kita menyadari bahwa Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang telah menanamkan rasa cinta dan kasih sayang ke dalam hati setiap orang tua, sebagai bagian dari fitrah manusia. Maka ke manakah rasa kasih sayang itu ketika seorang ibu dengan tega membunuh anak kandungnya sendiri? Ke mana rasa cinta dan welas asih itu ketika seorang ibu meninggalkan bayinya di selokan dan di tempat sampah?

Rasulullah SAW telah mencium Al-Hasan bin Ali (cucu beliau), dan ketika itu di sisi beliau ada Al-Aqra’ bin Habis At-Tarmini. Al-Aqra berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak, tapi tak satupun di antara mereka yang pernah aku cium.” Maka Rasulullah SAW memandangnya dan bersabda, “Barangsiapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi.” (HR Bukhari)

Komentar (4)

Mengenal Allah Melalui Astronomi

Mari sedikit bernostalgia tentang pelajaran geografi kita di masa sekolah :)

bumi dilihat dari Apollo 17

Bumi tempat kita berpijak ini berbentuk hampir bulat, tidak benar-benar bulat seperti yang sudah jamak kita pahami karena sebenarnya bumi agak pipih di bagian atas (Kutub Utara) dan di bagian bawahnya (Kutub Selatan). Bumi berotasi alias berputar pada dirinya sendiri dengan kecepatan 1.669 km/jam. Kita tidak merasakannya karena kita pun ikut berputar bersama-sama dengan bumi. Selain itu, bumi bersama planet-planet lainnya juga berputar mengitari matahari sebagai pusatnya, yang kesemuanya ini disebut dengan tata surya.

Di alam semesta ini terdapat triliunan bintang seperti matahari kita, dan setiap 100 miliar bintang membentuk gugusan yang kita sebut sebagai galaksi. Galaksi di mana bumi bertempat adalah Bimasakti, di sebelahnya ada Andromeda, dan seterusnya, ada miliaran galaksi di jagad raya. Dan tidak berhenti sampai di situ, setiap 100 miliar galaksi masih membentuk gugusan lagi yang disebut Superkluster. Dan seterusnya dan seterusnya, jagad semesta ini masih belum diketahui batasnya…

Belum bisa membayangkan seberapa luasnya alam semesta ini?

Mari kita coba mengitung, berapa jarak gugusan bintang-bintang itu? 100 tahun cahaya. 1000 tahun cahaya. 1 juta tahun cahaya. Dan terjauh yang berhasil ditemukan oleh para ilmuwan adalah 10 miliar tahun cahaya. Ya, cahaya yang berkecepatan 300.000 km/detik itu saja membutuhkan waktu 10 miliar tahun… Sungguh jarak yang tidak terbayangkan dalam kehidupan kita!

Betapa luasnya alam semesta ini sehingga bumi bagaikan tak lebih dari sebutir debu di antara padang pasir alam semesta. Dan di atas bumi yang seperti sebutir debu itulah 5 miliar manusia hidup dengan segala aktivitas dan kesombongannya! Masya Allah, kita ini benar-benar tidak ada apa-apanya. Begitu kecil… begitu kecil kita di hadapan Allah Sang Penguasa Langit dan Bumi… dan betapa dahsyatnya, betapa luar biasanya kekuasaan Allah Azza wa Jalla.

Sungguh, masih pantaskah kita berjalan dengan angkuhnya di muka bumi?

 

Sumber:
Agus Mustofa – Pusaran Energi Ka’bah

http://id.wikipedia.org/wiki/Bumi

Komentar (2)

Tulisan yang Lebih Tua »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.