Posts Tagged musholla

Mau Shalat Saja Kok Repot?

Baru-baru ini saya pergi ke Golden City Mall bersama ibu saya, dan seperti biasa, tujuan utamanya hanyalah berbelanja di Carrefour. Kebetulan karena mepetnya waktu dan pentingnya barang yang harus dibeli, kami terpaksa harus mampir di jam-jam ajaib mall, yaitu saat sudah masuk waktu shalat Maghrib. Biasanya saya menghindari bepergian ke mall di jam-jam ajaib, -maksudnya waktu shalat wajib 5 waktu, karena jujur saja, saya sudah terlanjur pragmatis dengan fasilitis umum di republik kita tercinta ini. Dan musholla termasuk di antaranya.

Dengan bekal rukuh yang dibawa sendiri, akhirnya kami pun masuk melalui pintu parkir mobil di lantai dasar. Untuk menghemat waktu yang memang tidak banyak, saya berinisiatif untuk bertanya kepada pak satpam mengenai tempat shalat, daripada harus muter-muter mencari sendiri.

Beginilah kira-kira jawaban yang saya dapatkan, “Mbak silakan melewati jalan ini lurus lalu belok kanan, nanti ada KFC. Mbak keluar gedung dari pintu utama, belok kanan ke arah parkiran sepeda motor, belok kanan menyusuri gedung lalu terus saja.”

Saya menghela nafas, dengan membayangkannya saja sudah terasa jauh sekali. Akhirnya kami pun berjalan sesuai dengan petunjuk pak satpam yang Alhamdulillah jelas sekali. Tapi setelah berbelok ke kanan yang terahir dan berjalan menyusuri gedung tak urung kami sempat ragu-ragu juga. Jalan yang kami susuri agak gelap dan sama sekali tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya sebuah tempat shalat dan kebetulan memang sepi sekali sehingga kami sempat bingung mau bertanya sama siapa? Yang lewat hanyalah satu dua sepeda motor yang sepertinya sedang menuju pintu keluar. Tidak mungkin dong menghentikan laju kendaraan mereka hanya untuk bertanya.

Setelah berjalan agak jauh akhirnya saya menemukan pencerahan, samar-samar saya melihat seorang pria yang sedang duduk di pinggir suatu ruangan sambil memakai sepatunya kembali. Pemandangan yang familiar bukan? :) Tanpa ragu kami pun berjalan ke arah ruangan itu dan secara otmatis mencari tempat wudhu, yang ternyata hanya berupa sebuah tempat kecil dengan 3 buah keran. Tidak ada pemisahan antara tempat wudhu laki-laki dan wanita dan tempatnya terbuka!

Mungkin memang sudah sedemikian umumnya ya para muslimah yang tidak berjilbab, sehingga kami-kami yang berjilbab ini justru dianggap sebagai minoritas yang tidak perlu diperhitungkan lagi saat membangun sebuah tempat shalat. Memang disediakan 2 kamar mandi (1 rusak sehingga akhirnya hanya 1 yang bisa terpakai, harus antri dengan orang lain yang ingin wudhu atau kencing atau BAB) tapi terlalu banyakkah bila saya mengharapkan adanya sebuah tempat wudhu yang layak?

Dengan hati sedih saya pun bersuci di tempat kecil yang bau rokok dan pengap, bekas dipakai buang hajat oleh orang yang memakainya sebelum saya.

Tapi hati saya cukup terhibur dengan musholla yang cukup luas dan bersih, walau lagi-lagi sama sekali tidak ada hijab antara pria dan wanita. Selain itu saya juga menemui keluarga kecil dengan 2 orang anak yang masih kecil-kecil menunaikan shalat secara berjamaah dan tu’maninah, hal yang sangat jarang saya temui dewasa ini.

Saya seringkali merenung kenapa fasilitas publik kita demikian payahnya. Bahkan mencakup musholla, fasilitas untuk hal utama yang akan menentukan amalan kita di akhirat kelak. Kita ini katanya negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tapi kenapa mau shalat aja kok repot?

Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.