Apa yang biasa dilakukan orang di awal tahun?
Yup, membuat resolusi. Banyak orang yang mempertanyakan apa gunanya membuat resolusi di tahun baru, toh membuat resolusi bisa dilakukan kapan saja. Memang ada benarnya, tapi juga harus dimaklumi bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan momentum untuk memulai hal-hal baru, dan tahun baru rasanya bisa dianggap sebagai momentum yang cukup pas buat sebagian besar orang. Banyak juga yang mempertanyakan apa gunanya membuat resolusi, kalau tidak tercapai hanya membuat frustasi diri sendiri dan merasa bersalah di akhir tahun. Yang ini mungkin memang (masih) ada benarnya, dalam artian kalau target tidak tercapai lalu merasa bersalah atau kecewa, itu manusiawi kan? Masalahnya hanya terletak pada bagaimana me-manage kekecewaan itu agar menjadi cambuk untuk berusaha lebih baik lagi, dan bukan menjadi alasan pembenaran untuk berhenti.
Kenyataannya, hanya 8% yang berhasil memenuhi resolusi yang dibuatnya sendiri (yah itu di Amerika sih, mungkin kalo dilakukan penelitian buat kita hasilnya bisa lebih baik? Semoga begitu!). Maka, Pak Stephen Shapiro itu menyarankan sebuah model baru. Jangan buat resolusi, buatlah tema!
Resolusi, tema, atau apapun namanya, kalau dilihat dengan hukum manajemen rasanya sama saja, masuk dalam ranah perencanaan. Sebutlah apa saja tapi pesannya sama; buatlah rencana dalam hidupmu. Buat, tuliskan, laksanakan, dan evaluasi setelah jangka waktu tertentu.
Hidup tanpa rencana memang bisa-bisa saja, seperti halnya orang yang merasa hidupnya mengalir seperti air. Tapi harus selalu diingat bahwa air selalu mengalir menuju tempat yang lebih rendah…