Masih dalam rangka membicarakan tahun baru nih ceritanya.
Setelah digempur dengan alunan lagu dangdut yang berdentum-dentum di detiap tenda yang hampir selalu saya temui di tiap akhir minggu dan puluhan undangan pernikahan dari para kerabat dan sahabat selama akhir tahun, tiba-tiba saja begitu memasuki tahun baru Muharram keadaan menjadi sunyi senyap. Seolah-olah ada semacam perjanjian yang tak tertulis di kalangan para jomblo’ers yang melepas masa lajangnya untuk tidak menikah di bulan ini. Ada apakah gerangan?
Sepanjang yang saya ketahui, Muharram dalam penanggalan Jawa disebut sebagai bulan Syuro, dan sama-sama merupakan awal tahun yang baru. Konon, awal tahun baru ini merupakan harapan atau doa agar dapat menjadi lebih baik lagi dibanding tahun-tahun sebelumnya, sehingga bulan Syuro dianggap sebagai bulan yang sakral. Coba saja kita lihat berbagai macam ritual yang dilakukan oleh segolongan masyarakat tertentu untuk menyambut bulan yang sakral ini, mulai dari membersihkan benda-benda peninggalan yang juga dianggap sakral semacam keris sampai mengarak kerbau!
Bila memang dianggap sakral, lantas apa hubungannya dengan pantangan hajatan? Ada yang berpendapat bahwa di bulan Syuro ini diharuskan untuk melakukan instropeksi, mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengurangi kegiatan yang termasuk dalam kegitan bersenang-senang, seperti menikah atau membangun rumah. Apabila nekat dilanggar, maka dijamin akan mendatangkan kesialan. Alhasil istilah ‘bulan sial’ pun dinisbatkan pada bulan Muharram…
Dilihat dari segi mana pun juga, saya rasa kita semua bersepakat bahwa kepercayaan yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam ini tergolong dalam syirik dan bid’ah, sesat dan menyesatkan. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari keduanya…