Posts Tagged tahun baru

Muharram = bulan sial?

Masih dalam rangka membicarakan tahun baru nih ceritanya.

Setelah digempur dengan alunan lagu dangdut yang berdentum-dentum di detiap tenda yang hampir selalu saya temui di tiap akhir minggu dan puluhan undangan pernikahan dari para kerabat dan sahabat selama akhir tahun, tiba-tiba saja begitu memasuki tahun baru Muharram keadaan menjadi sunyi senyap. Seolah-olah ada semacam perjanjian yang tak tertulis di kalangan para jomblo’ers yang melepas masa lajangnya untuk tidak menikah di bulan ini. Ada apakah gerangan?

Sepanjang yang saya ketahui, Muharram dalam penanggalan Jawa disebut sebagai bulan Syuro, dan sama-sama merupakan awal tahun yang baru. Konon, awal tahun baru ini merupakan harapan atau doa agar dapat menjadi lebih baik lagi dibanding tahun-tahun sebelumnya, sehingga bulan Syuro dianggap sebagai bulan yang sakral. Coba saja kita lihat berbagai macam ritual yang dilakukan oleh segolongan masyarakat tertentu untuk menyambut bulan yang sakral ini, mulai dari membersihkan benda-benda peninggalan yang juga dianggap sakral semacam keris sampai mengarak kerbau!

Bila memang dianggap sakral, lantas apa hubungannya dengan pantangan hajatan? Ada yang berpendapat bahwa di bulan Syuro ini diharuskan untuk melakukan instropeksi, mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengurangi kegiatan yang termasuk dalam kegitan bersenang-senang, seperti menikah atau membangun rumah. Apabila nekat dilanggar, maka dijamin akan mendatangkan kesialan. Alhasil istilah ‘bulan sial’ pun dinisbatkan pada bulan Muharram…

Dilihat dari segi mana pun juga, saya rasa kita semua bersepakat bahwa kepercayaan yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam ini tergolong dalam syirik dan bid’ah, sesat dan menyesatkan. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari keduanya…

Tinggalkan sebuah Komentar

Resolusi vs Tema

Apa yang biasa dilakukan orang di awal tahun?

Yup, membuat resolusi. Banyak orang yang mempertanyakan apa gunanya membuat resolusi di tahun baru, toh membuat resolusi bisa dilakukan kapan saja. Memang ada benarnya, tapi juga harus dimaklumi bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan momentum untuk memulai hal-hal baru, dan tahun baru rasanya bisa dianggap sebagai momentum yang cukup pas buat sebagian besar orang. Banyak juga yang mempertanyakan apa gunanya membuat resolusi, kalau tidak tercapai hanya membuat frustasi diri sendiri dan merasa bersalah di akhir tahun. Yang ini mungkin memang (masih) ada benarnya, dalam artian kalau target tidak tercapai lalu merasa bersalah atau kecewa, itu manusiawi kan? Masalahnya hanya terletak pada bagaimana me-manage kekecewaan itu agar menjadi cambuk untuk berusaha lebih baik lagi, dan bukan menjadi alasan pembenaran untuk berhenti.

Kenyataannya, hanya 8% yang berhasil memenuhi resolusi yang dibuatnya sendiri (yah itu di Amerika sih, mungkin kalo dilakukan penelitian buat kita hasilnya bisa lebih baik? Semoga begitu!). Maka, Pak Stephen Shapiro itu menyarankan sebuah model baru. Jangan buat resolusi, buatlah tema!

Resolusi, tema, atau apapun namanya, kalau dilihat dengan hukum manajemen rasanya sama saja, masuk dalam ranah perencanaan. Sebutlah apa saja tapi pesannya sama; buatlah rencana dalam hidupmu. Buat, tuliskan, laksanakan, dan evaluasi setelah jangka waktu tertentu.

Hidup tanpa rencana memang bisa-bisa saja, seperti halnya orang yang merasa hidupnya mengalir seperti air. Tapi harus selalu diingat bahwa air selalu mengalir menuju tempat yang lebih rendah…

Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.